Penulis : Kulul Sari.
SIBERINDO.CO, BABEL — banyak tempat wisata yang menyuguhkan keindahan alam yang luar biasa dan lengkap, mulai dari gugusan pegunungan hingga kekayaan alam bawah laut yang mampu membius hati dan pikiran yang bisa kita kunjungi ketika berlibur ke Bangka Tengah.
Salah satunya adalah wisata hutan Mangrove yang terletak di desa Kurau Barat kecamatan Namang Kabupaten Bangka Tengah Provinsi Bangka Belitung.
Hutan mangrove atau hutan bakau hanya tumbuh di daerah tropis. Pepohonannya tumbuh di atas rawa-rawa yang memiliki air payau.
Siberindo.co berkesempatan mengunjungi tempat wisata yang cukup menarik ini pada minggu (24/1/2021), bersama sejarawan Bangka Belitung Akhmad Elvian, penulis dan pegiat budaya Bangka Tengah Meilanto dan Tim Bekaes Budaya Bangka Belitung diterima langsung oleh ketua pengelola Yasir dan rekan.
Aik Munjang, demikian nama wisata alam yang terdapat di desa Kurau Barat ini biasa disebut. Memiliki lahan seluas 813 hektar, di kelola oleh Generasi muda pencinta alam (Gempa) yang diketuai oleh Yasir.
Menurut Yasir, potensi wisata Aik Munjang ini sudah mulai dibenahi sejak 2016,
“legalitas pengelolaan dari kementerian kehutanan keluar tahun 2016 tapi kalau konservasi mangrove di mulai tahun 2004,” jelasnya
Yasir melihat dengan berkembangnya destinasi wisata di Bangka Belitung dalam benaknya hutan mangrove atau hutan bakau ini selain sebagai lahan konservasi, bisa dijadikan sebagai salah satu pilihan untuk dijadikan tempat wisata
“Hutan mangrove ini bisa dijadikan salah satu pilihan wisata dengan catatan bahwa ekowisata atau wisata alam tidak melakukan perubahan yang sangat besar selain penambahan Sapras karena alam sudah memberikan ke indahan tinggal di kelola dan di jaga karena ‘ke indahan alam gratis tapi, yang mahal adalah menjaga dan melestarikannya.”lanjutnya.
Lebih lanjut Yasir menjelaskan bahwa sebelum covid, pengunjung yang datang perhari hingga 400 atau 500 an pengunjung. Selain karena cukup menarik, mengunjungi hutan mangrove ini gratis alias tidak bayar. Kecuali parkir kendaraan dan speed boat,
“Hanya speed boat, untuk mengangkut pengunjung ke lokasi wisata dan juga parkir kendaraan yang bayar bang. Kalau sarana sebelum covid , selain dari susur sungai dan jembatan trek 500 meter ada juga flying fox,” imbuhnya.
Yasir punya impian, kedepan hutan mangrove ini di jadikan sebagai pusat penelitian khusus mangrove dan sejarah. (aditya)










